FILSAFAT DAN AGAMA

agama adalah sesuatu yang dapat terdistorsi,ter biaskan,ter infiltrasi-tercampur baur oleh berbagai hal yang ada dalam realitas kehidupan umat manusia, apakah itu unsur sejarah, budaya,adat istiadat, pemikiran dlsb. 
Analoginya ibarat sinar putih yang ditembakkan pada sebuah prisma sehingga menghasilkan cahaya yang berwarna warni atau ibarat air yang dari hulu nya masih murni-bersih maka setelah ber kelok kelok melewati banyak perkotaan maka warna nya menjadi berubah menjadi sedikit keruh
Sehingga untuk kembali kepada yang aslinya manusia kadang harus kembali mencari cari jalan ke arah itu diantaranya dengan meluruskan niat se lurus lurusnya hanya karena ingin mencari kebenaran Ilahiah, dengan tujuan utama bukan karena ingin mengangkat suatu budaya atau adat istiadat tertentu bukan juga karena ingin mengedepankan suatu mazhab atau suatu bentuk filsafatatau pemikiran tertentu
Dengan kata lain ketika meng infiltrasi agama maka yang namanya budaya,adat istiadat,filsafat-world view atau pemikiran manusiawi tertentu itu semua harus diperlakukan hanya sebagai bumbu-bukan malah dijadikan menu utama sehingga yang dikedepankan bukan hal yang essensial.karena sebenarnya tanpa memakai bingkai budaya sekalipun maka agama sudah secara komplit meng konsep ajaran kebaikan terhadap sesama
Karena mesti difahami bahwa essensi agama itu adalah konsep kebenaran Ilahiah-kebenaran menurut Tuhan dan ke wilayah manapun di seluruh pelosok bumi agama telah sampai maka essensi demikian harus tetap difahami dan dijadikan pedoman serta pegangan jangan sampai essensi nya dilupakan atau di abaikan sementara bumbu bumbu nya yang lebih banyak di olah
Agama yang terdistorsi budaya-'kyai budaya'
Bila suatu agama hadir ke wilayah tertentu dan budaya wilayah tersebut meng infiltrasi atau menjadi ikut mewarnai agama maka itu adalah suatu yang wajar-alami-fitrah manusiawi dan artinya masih dapat di tolelir selama essensi agama yang berupa konsep kebenaran Ilahiah tidak menjadi ter luntur kan
Contoh,agama islam ketika datang ke wilayah Afrika maka secara alamiah maupun manusiawi budaya setempat akan menjadi ikut mewarnai
Yang keliru adalah TERLALU mensetting atau mendesain agama agar tampilannya mesti ber nuansa budaya tertentu.misal kemana mana pakaian nya melulu harus ber nuansa budaya, cara berbicara atau berdakwah melulu harus bernuansa budaya atau berpijak pada budaya,nasihat atau ceramahnya selalu dikaitkan atau mengaitkan diri dengan konteks budaya tertentu.
Bahkan lama kelamaan nama agama pun dibingkai oleh nama budaya tertentu.akhirnya sang ulama atau 'kyai budaya' ini terpanjara kan oleh konsep budaya yang dibuatnya sendiri.padahal penyampaian agama harus lepas-intuitif mengikuti suara hati nurani dan akal sehat-lepas dari beban budaya dan adat istiadat
Misal kemana mana mestiii berpakaian tradisional Afrika,ceramahnya selaluuu mengacu atau di acu kan pada budaya dan adat istiadat Afrika.lalu nama islam di identikkan dengan nama wilayah tertentu. Padahal agama itu harus 'di universalisasi kan' bukan makin di persempit.artinya pemahamannya harus diperluas meliputi keseluruhan umat manusia tanpa dibatasi sekat wilayah, ras, bahasa dlsb
Padahal agama itu dimanapun essensi nya ia berwajah universal-konsepsinya meliputi keseluruhan umat manusia sehingga dalam penyampaiannya tidak mesti di desain dengan dibingkai oleh budaya lokal tertentu kecuali bila sebatas sebagai bumbu semata tentunya
Karena sebagai contoh,seorang nabi pun kemana mana tidak mengkonsep untuk mendakwahkan budaya tertentu misal selaluuu berpakaian ala budaya Arab atau mewajibkan penyampaian agama dengan berbahasa Arab, karena inti nya mereka-para nabi mendakwahkan konsep Tuhan. 
Tapi kalau ada budaya Arab-budaya timur tengah terbawa ikut mewarnai maka itu harus dianggap sebagai bumbu-bukan menu utama.menu utama agama haruslah tetap konsep kebenaran Ilahiah
Yang juga keliru besar adalah misal apa yang di konsepsikan agama ditolak dengan meng atas namakan budaya.misal kewajiban menutup aurat ditolak karena dianggap bertentangan dengan budaya tertentu.
Ini adalah salah satu contoh budaya yang menyimpangkan atau membelokkan arah agama.tapi kalau sekedar ikut mewarnai misal pakaian penutup aurat itu ber motif kerajinan lokal
Karena inti yang harus kita fahami adalah: agama itu dari Tuhan sebagai konsep kebenaran menurut Tuhan termasuk konsep pengaturan Tuhan terhadap keseluruhan umat manusia.Sedang budaya-adat istiadat itu murni hasil kreatifitas manusiawi,dua hal yang essensinya berbeda dan harus dilihat serta diperlakukan secara berbeda pula
Ketika budaya meng insfiltrasi agama maka agama dapat terdistorsi dengan resiko masih tetap benar menurut Tuhan atau malah bisa berbelok salah arah, bergantung cara manusia dalam menyikapi serta memperlakukan budaya, apakah menempatkan dibawah atau diatas agama,sebagai sekedar bumbu atau malah diolah menjadi menu utama
Agama yang terdistorsi filsafat-world view
Salah satu filsafat atau pemikiran manusiawi yang mendunia atau menjafi worldview adalah prinsip HAM-demokrasi dan ujung ujungnya itupun ikut meng infiltrasi dan men distorsi agama bagaimana efek atau hasil nya itu bergantung cara manusia menyikapinya ketika konsep demikian bersua dengan agama
Ada yang bersikap hati hati dengan terlebih dahulu menyaring sehingga ketika prinsip HAM demokrasi bersua dengan agama maka yang diambil dari prinsip demikian itu hanya hal hal yang baik dan benar nya dan mengenyampingkan hal hal yang tidak baik dan tidak benar nya
Contoh ketika prinsip HAM-demokrasi itu digunakan untuk memperjuangkan hal hal yang dipandang salah-keliru oleh agama maka umat beragama yang lebih bersikap menyaring akan cenderung menolaknya. 
Misal ketika prinsip demikian digunakan oleh kaum-golongan yang memperjuangkan seks bebas,LGBT dlsb. atau digunakan sebagai bingkai untuk memperjuangkan ajaran-filosofi-ideologi-isme yang tidak bersesuaian dengan ajaran agama
Infiltrasi filsafat atau pemikiran manusiawi terhadap agama juga sering melahirkan mazhab keagamaan tersendiri, artinya mereka membingkai agama dengan suatu tren pemikiran atau cara pandang tertentu. 
Dan seperti yang pernah saya katakan hasilnya bisa relatif,bisa masih benar bisa juga telah menjadi melenceng, bergantung pada visi-misi yang mereka bawa
Budaya kultus
Salah satu bentuk 'budaya' lain yang sering mendistorsi agama adalah budaya kultus.ini adalah budaya yang bersifat setengah abstrak karena setengahnya tersimpan di alam fikiran manusia
Misal adalah kultus berlebihan terhadap salah satu tokoh agama sehingga dianggap 'wali' sehingga lalu dalam ber do'a pun harus melalui perantaraan sang tokoh. tanpa analisis-pendalaman kembali fatwanya selalu dianggap mutlak benar.sehingga fokus terhadap agama bukan lagi terhadap essensi agama tapi berbelok pada pengkultusan terhadap pribadi manusia sehingga bagaimana agama itu mengikuti bagaimana pandangan sang tokoh,kreatifitas pribadi dalam mencari kebenaran menjadi hilang. artinya,budaya kultus ini dapat melunturkan potensi akal-nurani manusia sebagai peralatan pencari kebenaran dan pada tahap akut dapat membunuh potensi tersebut
........
Dan uraian ini tentu bukan membuat vonis mati terhadap suatu budaya-adat istiadat atau filsafat-pemikiran tertentu karena seperti yang saya tulis diatas, yang namanya budaya-adat istiadat serta bentuk pemikiran adalah hal hal yang merupakan fitrah alamiah yang manusiawi-pasti ada dalam kehidupan manusiawi dan ketika ikut meng infiltrasi atau mewarnai agama maka itupun suatu yang alamiah-manusiawi
Yang harus kita waspadai adalah arah nya,ketika arahnya sudah berbelok dari visi misi Ilahiah-visi misi para nabi misal lebih mengedepankan unsur budaya atau unsur manusiawi lain semisal filsafat atau suatu cara pandang manusiawi tertentu ketimbang essensi agama.
Maka itu harus kita luruskan kembali tentu dengan dakwah utamanya adalah dakwah ilmiah-bukan dakwah kekerasan fisik agar tidak menimbulkan riak serta konflik sosial, maklum perasaan manusiawi itu peka-mudah tersinggung,walau tetaplah konsep Ilahiah harus ditempatkan diatas rasa perasaan manusia

Komentar